26 Des 2008

EMANSIPASI PEREMPUAN




Sebuah pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Indonesia pernah terkungkung dalam cengkeraman penjajahan Belanda selama lebih kurang 3 ½ abad lamanya, ditambah lagi 3 ½ tahun dalam penjajahan Jepang. Mengenang jasa dan pengorbanan para leluhur dan pejuang bangsa Indonesia, mengingatkan kita sosok Pahlawan Nasional yang gagah perkasa memperjuangkan nasib kaum wanita. Tepat pada 21 April tahun 1879 lahirlah ibu pertiwi bangsa Indonesia yaitu Raden Adjeng Kartini atau lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini. Anak dari raden Mas Sosroningtrat yang berdarah bangsawan ini. Seorang tokoh jawa sekaligus dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini merupakan hasil dari pengorbanan yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia. Terutama berjasa pada kaum wanita. Sebut saja nama Raden Ajeng Kartini, nama yang tidak asing didengar. Emansipasi beliau sangat tinggi dalam memperjuangkan nasib kaum wanita yang ada saat ini. Namun apa masih ada Raden Ajeng Kartini saat ini? Sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama-sama.
Kartini telah memberanikan diri untuk memperjuangankan hak-hak wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum layaknya sekarang ini, hal ini menggambarkan bahwa beliau merupakan sosok yang tangguh yang tak kalah dengan para perhuang lainnya. Perjuangan yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia tentunya tidak hanya sekedar merebut kemerdekaan. Masyarakat yang ada saat ini dituntut untuk harus mengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Wafatnya Kartini bukan berarti perjuangannya berakhir pula. Akan tetapi perjuangan itu menuntut kebijakan- kebijakan dan kreativitas yang akan mengisinya.
Beda zaman berbeda pulalah bentuk perjuangan yang harus dilakukan, Kartini memang hebat. Bisa-bisanya dia itu bikin emansipasi-emansipasi wanita segala. Dengan maksud biar para genduk ayu, neneng gulis, dan nona-nona bisa ikut belajar di sekolah-sekolah. Bisa hitung duit sendiri, bisa jadi pegawai kantoran, dan bekerja selayaknya pria. Namun bukan berarti melanggar kodratnya sebagi wanita. Fenomena terbaca didepan mata dewasa ini.salah satu contohnya.semakin sedikit wanita yang bisa memasak. Kalau seorang perempuan ditanya “Sayangku, kamu bisa masak nggak?” jawabnya “ah, sekarang kan zaman emansipasi, laki-laki juga harus bisa masak. Aku juga bisa masak sedikit-sedikit… bla.. bla.. bla”. Sementara itu, Chef terhebat dalam urusan memasak semakin didominasi lelaki.
Sekarang zaman sudah berbeda, wanita sudah berkeliaran di mana-mana. Di kantor-kantor, pabrik-pabrik, kasir Bank dan supermarket, manajer, mentri, bahkan bisa jadi presiden. 3M sekarang adalah Meeting, Make-up, and Make Money. Tidak hanya cantik dan wangi tubuhnya, wanita sekarang juga sudah seperti Kartini, Harum namanya, bukan lagi 3M dizaman Kartin yaitu, Masak, Macak, Manak (Memasak, Merias diri, Melahirkan). Sugiharti dalam tulisannya berpendapat bahwa sudah saatnya kaum wanita kembali kepada fitrahnya, yaitu berbakti kepada suami dan mendidik anak-anak. Betapa tidak, wanita (ibu) –menurut Ibu Sugiharti—memiliki andil atas tren yang ada pada dunia remaja dan anak-anak: pergaulan bebas, aborsi, narkoba, perilaku tidak pantas terhadap guru, pembangkangan terhadap orang tua. Kaum Ibu lebih banyak yang memilih untuk berkarir (baca bekerja) daripada melaksanakan peran mulianya, yaitu berbakti kepada suami, mendidik anak-anak dan menata rumahtangga yang tentram.
Fakta menunjukkan bahwa jumlah perempuan di negara kita jauh lebih besar dibanding dengan jumlah laki- laki. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Umat Islam Menyongsong Abad ke-21 menuliskan bahwa perempuan berada diantara dua zaman kejahiliahan, yaitu abad ke- 14 dimana kemerdekaan perempuan dipasung, bahkan keluar rumahpun dianggap suatu aib dan sekarang di abad 20-an perempuan bebas sebebas- bebasnya hingga terkesan merendahkan martabatnya sendiri. Perempuan merasa bangga bila dapat menunjukkan lekuk tubuhnya dengan pakaian yang seksi, perempuan merasa senang bila dapat menjadi aktris atau supermodel, dan segala bentuk kebebasan yang cenderung menjatyuhkan dirinya tanpa ia sadari. Jumlah penduduk perempuan yang lebih besar dibanding laki- laki, sudah barang tentu perempuan menjadi bagian yang sangat penting bagi bangsa dan negara ini. Sehingga boleh dikatakan laki- laki dan perempuan di negara kita bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Laki- laki tanpa perempuan bagai malam tanpa bintang, bagai purnama diliputi awan kelam, bagai gulai tanpa garam. Mana mungkin sempurna laki- laki tanpa perempuan. Kepeloporan kaum wanita dalam pembangunan bangsa dan negara harus diupayakan agar setiap wanita memiliki jiwa kejuangan, keperintisan dan kepekaan terhadap lingkungan, minimal dalam keluarga, baik fungsinya sebagai anak, ibu, maupun masyarakat. Hal ini dibarengi pula oleh sikap mandiri, disiplin, dan memiliki sifat yang bertanggungjawab, inovatif, ulet, tangguh, jujur, berani dan rela berkorban dengan dilandasi oleh semangat cinta tanah air.
Perempuan Indonesia pada saat ini diharapkan sebagai sosok yang berpendidikan, berkualitas moral dan akhlak yang tinggi dan mulia. Perempuan merupakan suatu cerminan didalam sebuah negara, ia merupakan suatu tonggak yang sangat kokoh. Rasulullah SAW mendudukkan perempuan ke tingkat yang mulia sehingga diharapkan karyanya mensejahterakan bangsa dan negara : Perempuan adalah tiang negara. Apabila baik baiklah negara, apabila buruk maka hancurlah negara.
Bentuk perjuangan yang perlu ditonjolkan oleh wanita bukanlah berarti harus terjun langsung ke medan perang seperti kaum laki-laki lainnya, naun yang terpaling penting adalah kaum wanita mampu memposisikan ulang kodratnya sebagai ibu dalam keluarga.
Oleh karena itu, sejauh mana perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berperan aktif, apakah sebagai pekerja sosial, tokoh pendidikan, atau bahkan penegak hukum, tokoh politik, dan jajaran pemerintahan, sejauh itulah perempuan memiliki eksistensi sebagai pilar- pilar negara sehingga keberadaannya dianggap penting di setiap segi kehidupan bangsa dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar